Arsip

Arsip untuk Juli, 2009

SEBUAH ARTIKEL DARI SEORANG PENDUKUNG H. MUHAMMAD JUSUF KALLA

Juli 9, 2009 1 komentar

Pertama-tama tentunya saya ingin mengucapkan selamat kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Karena menurut Quick Count yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga survey bekerja sama dengan media masa, calon no urut dua ini berhasil terpilih dalam pemilu presiden ini. Dengan suara lebih dari 50% dan 20% suara di 17 provinsi berarti syarat untuk memenangkan pilpres satu putaran telah terpenuhi. Walaupun hasil akhir dari KPU sendiri belum diumumkan, saya percaya dengan hasil Quick Count yang tidak akan jauh hasilnya dengan perhitungan manual KPU. Karena Quick count adalah sebuah kegiatan akademik yang bisa dipertanggungjawabkan proses dan metologinya, bukan Cuma sekedar hitung-hitungan anak TK.

Apakah saya merasa kalah sebagai pendukung Jusuf Kalla? Tidak. Di dalam pemilu presiden ini sebenarnya tidak perlu ada yang merasa menang atau merasa kalah. Karena ini bukanlah sebuah pertarungan, ini adalah sebuah pemilihan untuk memilih yang terbaik diantara yang terbaik. Saya yakin semua calon yang maju dalam pemilihan presiden tahun ini semuanya memiliki satu tujuan, yaitu membawa Indonesia untuk terus maju, walaupun dengan cara yang berbeda , tidak ada satupun calon presiden yang ingin Negara ini terpuruk.

Kemenangan yang sesungguhnya adalah keberhasilan Pemilu ini sendiri. Pemilu yang walaupun masih ada kekurangan, tetapi secara umum, menurut pengamatan saya telah berjalan dengan lancar. KPU sebagai penyelenggara pemilu telah menjalankan tugasnya dengan baik. KPU telah berusaha dengan semua kemampuannya, menjaga independensinya, kalaupun ada kekurangan kita harus bisa memakluminya,karena di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kekurangan itu hanyalah bagian becek di sudut lapangan yang tidak perlu kita ungkit dan kita salahkan.

Saya sendiri sebagai pendukung JK malah merasa Kemenangan yang saya dapatkan melebihi dari kemenangan Pemilu itu sendiri. Saya bangga telah menjadi salah satu pendukung JK, banyak kebanggaan yang saya dapatkan dalam mengagumi seorang JK. Kebanggaan yang pertama adalah rasa optimisme JK, seorang yang pada awalnya dipandang sebelah mata, dengan elektabilitas awal hanya 2%, dia berani maju untuk mencalonkan sebagai calon presiden. Bayangkan kemungkinan hanya 2%, kalau kita yang mengalami hal itu, memulai sesuatu dengan kemungkinan 2%, pasti kebanyakan dari kita akan langsung menyerah dari awal. Tetapi tidak buat JK, dia pantang menyerah, dengan modal elektabilitas 2% dia berani maju, dan dia berhasil meningkatkan elektabilitasnya di kalangan masyarakat. Padahal di dalam partainya ada tokoh yang elektabilitas awal lebih baik darinya. Seperti yang kita ketahui, pilpres bukan lagi ajang kompetisi partai, tapi ajang kompetisi figur, mesin partai tidak akan banyak mempengaruhi. Sikap optimisme ini yang membuat saya simpati pada seorang JK. Dia tidak pernah putus asa, bahkan di wajahnya selalu terpancar sikap optimisme tersebut.

Kebanggaan kedua saya adalah ternyata pilihan saya sama dengan beberapa tokoh bangsa seperti Hasyim Muzadi, Kwik Kian Gie, Budiarto, Khofifah, dan yang paling saya sukai adalah pernyataan seorang Sujiwo Tejo yang menyatakan kalau dia selama ini adalah orang yang lebih memilih untuk golput. Tetapi sekarang tidak lagi, karena JK bukanlah seorang yang munafik, bahkan bersumpah atas nama ibunya segala. Saya merasa pemikiran saya sama dengan pemikiran orang-orang tersebut, setidaknya dalam menentukan pilihan dalam Pemilihan presiden. Kebanggaan ini membuat saya merasa berada diantara tokoh bangsa tersebut karena memiliki pilihan yang sama dengan mereka.

Kebanggaan yang ketiga yaitu saya mendukung seorang yang sangat mecintai negrinya sendiri, bangga dengan produk dalam negeri. Tidak pernah saya melihat seorang negarawan yang amat bangga dengan bangsanya sendiri, lebih memilih anak bangsa untuk membangun bangsanya sendiri. Tidak tergantung kepada bangsa luar. Kalau memang dalam negeri bisa, buat apa mengandalkan luar negeri. Begitu juga cara dia mendamaikan aceh dan ambon. Apalagi Aceh, yang dia mengakuinya kalau dia sampai mengeluarkan biaya sendiri, dan pada awalnya itu sesuatu yang tidak didukung oleh pemerintah, tapi ia terus maju. Hasilnya adalah gelar Dr. Honoris Causa dari Universitas di Jepang dan di Malaysia. Saya yakin kedua universitas itu tidak mungkin berani memberikan gelar Dr. kalau memang JK tidak banyak berperan dalam perdamaian di aceh. Hal itu sangat mencerminkan kecintaannya kepada bangasa dan negara.

Kebanggaan yang berikutnya adalah ketika melihat debat capres yang diadakan KPU, saya senang sekali melihat JK tampil dengan baik dan terlihat yang paling dominan, apalagi saat dia mulai menyerang capres yang lain dengan tegas dan lugas. JK tidak merasa sungkan mengkritik SBY yang masih atasannya, jika memang dirasa salah, dia bilang salah.  Dari debat itu sangat terlihat mana yang paling menguasai masalah di masyarakat  dan cepat untuk menemukan solusinya. Dan saya kira wajar kalau banyak yang menilai JK adalah pemenan dalam debat capres itu. Saya makin yakin kalau calon yang saya dukung adalah calon yang paling tepat.

Memang saya akui ada satu hal yang kurang dalam kepribadian JK, yaitu pencitraan dirinya sebagai seorang pemimpin yang berwibawa, JK pun mengakuinya di dalam salah satu iklan kampanyanye, dan sayangnya hal itu adalah hal yang penting bagi rakyat indonesia. Saya sangat menyayangkan kalau memang hal itu yang menjadi hal yang penting bagi masyarakat dalam memilih. Saya ingat saya berdebat dengan teman saya karena pada awalnya dia mendebat saya dengan bicara soal kepantasan, bahkan sampai bilang kalau pak JK mirip salah satu pelawak, saya tidak terima hal itu, langsung saja saya adu argumen dengannya. Tetapi setelah ditengah debat dia menjelaskan pemilihannya pada calon lain juga karena prestasinya selama memerintah, saya hormati pilihannya itu.

Artikel ini tidak saya maksudkan sebagai pembelaan karena JK tidak terpilih di pemilu presiden tahun 2009 ini. Tetapi artikel ini saya buat untuk membuktikan bahwa masih ada kebanggan walaupun kita tidak berhasil. Jangan kita melihat segala sesuatu yang tidak berhasil itu berarti kalah, di dalam itu masih banyak sisi positif yang bisa kita manfaatkan. Kita juga jangan melupakan sisi negatifnya, itu juga bisa menjadi salah satu hal yang bisa kita pakai untuk menginstropeksi diri kita sendiri. Pada akhirnya semua pngalaman inilah yang akan membuat ita semakin dewasa.

Buat pak JK, selamat datang di kampung halaman. Walaupun di kampng halaman, bapak harus melanjutkan terus perjuangan bapak untuk memajukan bangsa ini, kan masih banyak cara untuk mengabdi pada bangsa dan negara ini, iya kan pak . . . Dan maafkan saya yang terpaksa golput karena keadaan dan tidak bisa menyumbangkan suaranya buat pak JK . . .

Categories: Politik Tag:, ,

MENGHITUNG PELUANG TIAP PASANG CAPRES UNTUK LOLOS KE ISTANA

Juli 6, 2009 4 komentar

Menurut pengamatan saya yang amat sangat buta akan politik, tetapi karena keramaian media yang penuh dengan berita-berita politik menjelang pilpres secara tidak sadar saya juga akhirnya ikut mengikuti perkembangan politik di negeri tercinta ini. apalagi semua berita perpolitikan itu seperti layaknya sebuah cerita sinetron yang sepertinya susah ditebak hasil akhirnya, tiap saat semua peristiwa yang terjadi dengan cepat mengubah arah perpolitikan, mengubah opini masyarakat, mulai dari survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey, acara debat di TV, pernyataan-pernyataan masing-masing tim sukses, ataupun sekedar obrolan ringan di warung kopi. Politik saat ini sepertinya menjadi jawara informasi, iklan-iklan di media cetak ataupun media elektronik dikuasai oleh iklan-iklan politik, begitu juga dengan berita yang ditayangkan, hampir tiap televisi mempunyai acara tersendiri untuk membahas pilpres yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 juli nanti.

Menurut survey terakhir capres incumbent dari partai demokrat, SBY, masih menempati peringkat teratas di hasil survey lembaga-lembaga tersebut, diikuti Mega di peringkat kedua dan JK diperingkat ketiga. secara umum hasilnya seperti itu walaupun persentasenya berbeda beda.

Walaupun dengan kecendrungan menurun, elektabilitas SBY masih paling tinggi ini desebabkan karena prestasi pemerintah yang cendrung stabil dan sangat populis di mata masyarakat, walaupun sebenarnya prestasi itu dihasilkan bukan hanya oleh SBY, tetapi oleh semua perangkat pemerintahan yang merupakan koalisi dari beberapa partai, tapi rakyat melihatnya SBY sebagai pemimpin yang berjasa, hal ini sah-sah saja, karena memang kenyataannya seperti itu, pemimpin yang bertanggung jawab, baik itu prestasi ataupun kegagalan. tapi karena blunder-blunder yang sering dihasilkan dari pernyataan-pernyataan tim sukses SBY yang memang didominasi oleh politisi-politisi muda, membuat elektabilitas capres yang satu ini terus menurun sampai hampir menyentuh angka 50 persen.

Lain SBY lain pula JK, capres dari partai golkar ini elektabilitasnya terhitung yang paling cepat naik. dari yang awalnya sekitar 2 persen , sekarang ini sudah mendekti angka 20 persen, apalagi sebenarnya JK bukanlah termasuk capres favorit, tapi karena tim suksesnya yang sebagian besar dari politisi golkar yang sudah banyak makan asam garam dunia politik, mereka pandai memainkan isu-isu politik yang ada, selain itu JK sendiri adalah bagian dari pemerintahan yang bisa mengklaim sebagian prestasi pemerintah yang diakui adalah hasil pemikirannya. JK juga dinilai memahami problem-problem yang dihadapi bangsa indonesia, hal ini bisa dilihat dari acara debat yang diadakan oleh KPU.

Mega beda lagi, capres dari partai oposisi ini walaupun cendrung naik, tapi tidak sebesar JK, hasil surveynya masih berkutat di angka 2o an persen. sekalipun seperti itu, di hasil survey peringkatnya masih di peringkat 2. mungkin karena partai oposisi ini kurang bisa memainkan isu-isu yang berkembang, tim sukses Mega selalu berkutat di isu yang mengkritik pemerintah. di mata masyarakat sendiri pemerintah sekarang ini sudah cukup baik, jadi isu-isu yang diusung tim Mega kurang mengena di masyarakat. tapi Mega diuntungkan oleh Pendukung PDIP yang memang terkenal dengan fanatismenya, mungkin ini pula yang menyebabkan elektabilitas Mega stabil, tidak turun, naiknya juga tidak banyak.

Melihat hasil survey yang secara gamblang bisa dibilang kalau Mega stabil, sby turun dan jk naik. bisa dipastikan kalau konstituen JK sekarang ini adalah konstituen SBY yang tertarik oleh program JK, sedangkan Mega masih didukung pendukung fanatiknya.

Dalam UU tentang pilpres, diatur pelaksanaan pilpres satu putaran dan dua putaran, pilpres satu putaran terjadi apabila ada salah satu calon yang memperoleh suara 50% + 1 suara dan suaranya merata di hampir semua provinsi, jika syarat itu tidak terpenuhi maka akan dilaksanakan pilpres putaran kedua, dengan mengambil dua calon yang meraih suara paling tinggi.

Jika Pilpres berjalan satu putaran, maka bisa dipastikan SBY yang bakal memenangkannya, karena memang elektabilitasnya yang paling tinggi, dan sepertinya tidak mungkin disusul oleh Mega ataupun JK. waktu awal babak pilpres bergulir, sepertinya pemilu memang akan berlangsung satu putaran, hal ini wajar saja karena hasil survey SBY yang berada di kisaran 70% dan hasilnya memang hampir sama diantara lembaga-lembaga survey yang ada. tapi akan sangat sulit mewujudkannya, walaupun sby dapat 50% + 1 suara, tapi akan sangat sulit mendapatkan suara yang merata di hampir semua provinsi. karena itu sangat mungkin skenario dua putaran yang akan berjalan, dengan kepastian SBY akan menjadi salah satu pesertanya, entah lawannya JK atau Mega, karena elektabilitasnya masih Paling tinggi. mengenai lawannya kemungkinan besar mega yang akan menjadi lawannya di pilpres putaran kedua, tapi tidak menutup kemungkinan JK yang akan jadi lawannya di pilpres putaran kedua.

Untuk pilpres satu putaran tidak usah dihitung, selain peluangnya lebih kecil, kalo pilpres satu putaran hasilnya sudah pasti SBY yang menang. karena kemungkinan besar pilpres dua putaran, mari kita bahas hitungannya. pertama jika SBY melawan Megawati, dan JK yang tersingkir. Konstituen JK yang sebagian merupakan konstituen SBY yang pindah kubu sepertinya akan kembali lagi mendukung SBY, dan sebagian mengalihkan suaranya ke Mega. walaupun sudah dibuat koalisi besar, tapi mesin politik golkar sepertinya tidak bisa menahan konstituen JK untuk mengalihkan suaranya ke mega. dengan itung-itungan seperti ini, bisa dipastikan kalo SBY yang akan memenangkan pertarungan di putaran kedua ini. tapi jika mesin politik JK bisa mempertahankan konstituen JK, maka kemungkinan Mega menang melawan SBY masih ada. kemungkinan kedua adalah SBY berhadapan dengan JK, Mega yang tersingkir. karena konstituen Mega yang sebagian besar adalah pendukung fanatik mega, mereka tidak mungkin mengalihkan suaranya ke SBY, apalagi dengan kenyataan mega yang hubungannya tidak harmonis dengan SBY. paling yang mengalihkan suaranya ke sby hanya sebagian kecil saja. dengan ditambah popularitas JK yang terus naik, dan SBY turun, maka peluang JK cukup besar untuk memenangkan pilpres putaran dua.

Dengan itung-itungan seperti di atas maka wajar saja tim sby mewacanakan pilpres satu putaran. karena mereka tahu kalau dua putaran mereka harus bekerja keras untuk memenangkannya, apalagi jika melawan JK. karena itu akhir-akhir ini kubu SBY sepertinya selalu berseteru dengan kubu JK dan kubu Mega adem ayem saja. Padahal Sebelumnya kubu yang paling sering berseteru adalah kubu Mega dan Kubu SBY dan kubu JK yang adem ayem. Mereka menilai kalau Kubu JK yang berpeluang besar mengalahkan mereka walaupun kesempatan lolos ke putaran kedua lebih kecil daripada putaran pertama.

Jadi kesimpulannya kalau satu putaran SBY yang menang. tapi kalau dua putaran peluang SBY berbeda tergantung lawannya, kalau berhadapan Mega yang peluang lolosnya lebih besar tapi peluang menangnya lebih kecil otomatis peluang SBY lebih besar, berbanding terbalik dengan bila melawan JK yangpeluang lolosnya lebih kecil tapi peluang menangnya lebih besar, otomatis peluang SBY lebih kecil.

Categories: Politik Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.