MENGHITUNG PELUANG TIAP PASANG CAPRES UNTUK LOLOS KE ISTANA
Menurut pengamatan saya yang amat sangat buta akan politik, tetapi karena keramaian media yang penuh dengan berita-berita politik menjelang pilpres secara tidak sadar saya juga akhirnya ikut mengikuti perkembangan politik di negeri tercinta ini. apalagi semua berita perpolitikan itu seperti layaknya sebuah cerita sinetron yang sepertinya susah ditebak hasil akhirnya, tiap saat semua peristiwa yang terjadi dengan cepat mengubah arah perpolitikan, mengubah opini masyarakat, mulai dari survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey, acara debat di TV, pernyataan-pernyataan masing-masing tim sukses, ataupun sekedar obrolan ringan di warung kopi. Politik saat ini sepertinya menjadi jawara informasi, iklan-iklan di media cetak ataupun media elektronik dikuasai oleh iklan-iklan politik, begitu juga dengan berita yang ditayangkan, hampir tiap televisi mempunyai acara tersendiri untuk membahas pilpres yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 juli nanti.
Menurut survey terakhir capres incumbent dari partai demokrat, SBY, masih menempati peringkat teratas di hasil survey lembaga-lembaga tersebut, diikuti Mega di peringkat kedua dan JK diperingkat ketiga. secara umum hasilnya seperti itu walaupun persentasenya berbeda beda.
Walaupun dengan kecendrungan menurun, elektabilitas SBY masih paling tinggi ini desebabkan karena prestasi pemerintah yang cendrung stabil dan sangat populis di mata masyarakat, walaupun sebenarnya prestasi itu dihasilkan bukan hanya oleh SBY, tetapi oleh semua perangkat pemerintahan yang merupakan koalisi dari beberapa partai, tapi rakyat melihatnya SBY sebagai pemimpin yang berjasa, hal ini sah-sah saja, karena memang kenyataannya seperti itu, pemimpin yang bertanggung jawab, baik itu prestasi ataupun kegagalan. tapi karena blunder-blunder yang sering dihasilkan dari pernyataan-pernyataan tim sukses SBY yang memang didominasi oleh politisi-politisi muda, membuat elektabilitas capres yang satu ini terus menurun sampai hampir menyentuh angka 50 persen.
Lain SBY lain pula JK, capres dari partai golkar ini elektabilitasnya terhitung yang paling cepat naik. dari yang awalnya sekitar 2 persen , sekarang ini sudah mendekti angka 20 persen, apalagi sebenarnya JK bukanlah termasuk capres favorit, tapi karena tim suksesnya yang sebagian besar dari politisi golkar yang sudah banyak makan asam garam dunia politik, mereka pandai memainkan isu-isu politik yang ada, selain itu JK sendiri adalah bagian dari pemerintahan yang bisa mengklaim sebagian prestasi pemerintah yang diakui adalah hasil pemikirannya. JK juga dinilai memahami problem-problem yang dihadapi bangsa indonesia, hal ini bisa dilihat dari acara debat yang diadakan oleh KPU.
Mega beda lagi, capres dari partai oposisi ini walaupun cendrung naik, tapi tidak sebesar JK, hasil surveynya masih berkutat di angka 2o an persen. sekalipun seperti itu, di hasil survey peringkatnya masih di peringkat 2. mungkin karena partai oposisi ini kurang bisa memainkan isu-isu yang berkembang, tim sukses Mega selalu berkutat di isu yang mengkritik pemerintah. di mata masyarakat sendiri pemerintah sekarang ini sudah cukup baik, jadi isu-isu yang diusung tim Mega kurang mengena di masyarakat. tapi Mega diuntungkan oleh Pendukung PDIP yang memang terkenal dengan fanatismenya, mungkin ini pula yang menyebabkan elektabilitas Mega stabil, tidak turun, naiknya juga tidak banyak.
Melihat hasil survey yang secara gamblang bisa dibilang kalau Mega stabil, sby turun dan jk naik. bisa dipastikan kalau konstituen JK sekarang ini adalah konstituen SBY yang tertarik oleh program JK, sedangkan Mega masih didukung pendukung fanatiknya.
Dalam UU tentang pilpres, diatur pelaksanaan pilpres satu putaran dan dua putaran, pilpres satu putaran terjadi apabila ada salah satu calon yang memperoleh suara 50% + 1 suara dan suaranya merata di hampir semua provinsi, jika syarat itu tidak terpenuhi maka akan dilaksanakan pilpres putaran kedua, dengan mengambil dua calon yang meraih suara paling tinggi.
Jika Pilpres berjalan satu putaran, maka bisa dipastikan SBY yang bakal memenangkannya, karena memang elektabilitasnya yang paling tinggi, dan sepertinya tidak mungkin disusul oleh Mega ataupun JK. waktu awal babak pilpres bergulir, sepertinya pemilu memang akan berlangsung satu putaran, hal ini wajar saja karena hasil survey SBY yang berada di kisaran 70% dan hasilnya memang hampir sama diantara lembaga-lembaga survey yang ada. tapi akan sangat sulit mewujudkannya, walaupun sby dapat 50% + 1 suara, tapi akan sangat sulit mendapatkan suara yang merata di hampir semua provinsi. karena itu sangat mungkin skenario dua putaran yang akan berjalan, dengan kepastian SBY akan menjadi salah satu pesertanya, entah lawannya JK atau Mega, karena elektabilitasnya masih Paling tinggi. mengenai lawannya kemungkinan besar mega yang akan menjadi lawannya di pilpres putaran kedua, tapi tidak menutup kemungkinan JK yang akan jadi lawannya di pilpres putaran kedua.
Untuk pilpres satu putaran tidak usah dihitung, selain peluangnya lebih kecil, kalo pilpres satu putaran hasilnya sudah pasti SBY yang menang. karena kemungkinan besar pilpres dua putaran, mari kita bahas hitungannya. pertama jika SBY melawan Megawati, dan JK yang tersingkir. Konstituen JK yang sebagian merupakan konstituen SBY yang pindah kubu sepertinya akan kembali lagi mendukung SBY, dan sebagian mengalihkan suaranya ke Mega. walaupun sudah dibuat koalisi besar, tapi mesin politik golkar sepertinya tidak bisa menahan konstituen JK untuk mengalihkan suaranya ke mega. dengan itung-itungan seperti ini, bisa dipastikan kalo SBY yang akan memenangkan pertarungan di putaran kedua ini. tapi jika mesin politik JK bisa mempertahankan konstituen JK, maka kemungkinan Mega menang melawan SBY masih ada. kemungkinan kedua adalah SBY berhadapan dengan JK, Mega yang tersingkir. karena konstituen Mega yang sebagian besar adalah pendukung fanatik mega, mereka tidak mungkin mengalihkan suaranya ke SBY, apalagi dengan kenyataan mega yang hubungannya tidak harmonis dengan SBY. paling yang mengalihkan suaranya ke sby hanya sebagian kecil saja. dengan ditambah popularitas JK yang terus naik, dan SBY turun, maka peluang JK cukup besar untuk memenangkan pilpres putaran dua.
Dengan itung-itungan seperti di atas maka wajar saja tim sby mewacanakan pilpres satu putaran. karena mereka tahu kalau dua putaran mereka harus bekerja keras untuk memenangkannya, apalagi jika melawan JK. karena itu akhir-akhir ini kubu SBY sepertinya selalu berseteru dengan kubu JK dan kubu Mega adem ayem saja. Padahal Sebelumnya kubu yang paling sering berseteru adalah kubu Mega dan Kubu SBY dan kubu JK yang adem ayem. Mereka menilai kalau Kubu JK yang berpeluang besar mengalahkan mereka walaupun kesempatan lolos ke putaran kedua lebih kecil daripada putaran pertama.
Jadi kesimpulannya kalau satu putaran SBY yang menang. tapi kalau dua putaran peluang SBY berbeda tergantung lawannya, kalau berhadapan Mega yang peluang lolosnya lebih besar tapi peluang menangnya lebih kecil otomatis peluang SBY lebih besar, berbanding terbalik dengan bila melawan JK yangpeluang lolosnya lebih kecil tapi peluang menangnya lebih besar, otomatis peluang SBY lebih kecil.
