Beranda > Politik > SEBUAH ARTIKEL DARI SEORANG PENDUKUNG H. MUHAMMAD JUSUF KALLA

SEBUAH ARTIKEL DARI SEORANG PENDUKUNG H. MUHAMMAD JUSUF KALLA

Pertama-tama tentunya saya ingin mengucapkan selamat kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Karena menurut Quick Count yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga survey bekerja sama dengan media masa, calon no urut dua ini berhasil terpilih dalam pemilu presiden ini. Dengan suara lebih dari 50% dan 20% suara di 17 provinsi berarti syarat untuk memenangkan pilpres satu putaran telah terpenuhi. Walaupun hasil akhir dari KPU sendiri belum diumumkan, saya percaya dengan hasil Quick Count yang tidak akan jauh hasilnya dengan perhitungan manual KPU. Karena Quick count adalah sebuah kegiatan akademik yang bisa dipertanggungjawabkan proses dan metologinya, bukan Cuma sekedar hitung-hitungan anak TK.

Apakah saya merasa kalah sebagai pendukung Jusuf Kalla? Tidak. Di dalam pemilu presiden ini sebenarnya tidak perlu ada yang merasa menang atau merasa kalah. Karena ini bukanlah sebuah pertarungan, ini adalah sebuah pemilihan untuk memilih yang terbaik diantara yang terbaik. Saya yakin semua calon yang maju dalam pemilihan presiden tahun ini semuanya memiliki satu tujuan, yaitu membawa Indonesia untuk terus maju, walaupun dengan cara yang berbeda , tidak ada satupun calon presiden yang ingin Negara ini terpuruk.

Kemenangan yang sesungguhnya adalah keberhasilan Pemilu ini sendiri. Pemilu yang walaupun masih ada kekurangan, tetapi secara umum, menurut pengamatan saya telah berjalan dengan lancar. KPU sebagai penyelenggara pemilu telah menjalankan tugasnya dengan baik. KPU telah berusaha dengan semua kemampuannya, menjaga independensinya, kalaupun ada kekurangan kita harus bisa memakluminya,karena di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kekurangan itu hanyalah bagian becek di sudut lapangan yang tidak perlu kita ungkit dan kita salahkan.

Saya sendiri sebagai pendukung JK malah merasa Kemenangan yang saya dapatkan melebihi dari kemenangan Pemilu itu sendiri. Saya bangga telah menjadi salah satu pendukung JK, banyak kebanggaan yang saya dapatkan dalam mengagumi seorang JK. Kebanggaan yang pertama adalah rasa optimisme JK, seorang yang pada awalnya dipandang sebelah mata, dengan elektabilitas awal hanya 2%, dia berani maju untuk mencalonkan sebagai calon presiden. Bayangkan kemungkinan hanya 2%, kalau kita yang mengalami hal itu, memulai sesuatu dengan kemungkinan 2%, pasti kebanyakan dari kita akan langsung menyerah dari awal. Tetapi tidak buat JK, dia pantang menyerah, dengan modal elektabilitas 2% dia berani maju, dan dia berhasil meningkatkan elektabilitasnya di kalangan masyarakat. Padahal di dalam partainya ada tokoh yang elektabilitas awal lebih baik darinya. Seperti yang kita ketahui, pilpres bukan lagi ajang kompetisi partai, tapi ajang kompetisi figur, mesin partai tidak akan banyak mempengaruhi. Sikap optimisme ini yang membuat saya simpati pada seorang JK. Dia tidak pernah putus asa, bahkan di wajahnya selalu terpancar sikap optimisme tersebut.

Kebanggaan kedua saya adalah ternyata pilihan saya sama dengan beberapa tokoh bangsa seperti Hasyim Muzadi, Kwik Kian Gie, Budiarto, Khofifah, dan yang paling saya sukai adalah pernyataan seorang Sujiwo Tejo yang menyatakan kalau dia selama ini adalah orang yang lebih memilih untuk golput. Tetapi sekarang tidak lagi, karena JK bukanlah seorang yang munafik, bahkan bersumpah atas nama ibunya segala. Saya merasa pemikiran saya sama dengan pemikiran orang-orang tersebut, setidaknya dalam menentukan pilihan dalam Pemilihan presiden. Kebanggaan ini membuat saya merasa berada diantara tokoh bangsa tersebut karena memiliki pilihan yang sama dengan mereka.

Kebanggaan yang ketiga yaitu saya mendukung seorang yang sangat mecintai negrinya sendiri, bangga dengan produk dalam negeri. Tidak pernah saya melihat seorang negarawan yang amat bangga dengan bangsanya sendiri, lebih memilih anak bangsa untuk membangun bangsanya sendiri. Tidak tergantung kepada bangsa luar. Kalau memang dalam negeri bisa, buat apa mengandalkan luar negeri. Begitu juga cara dia mendamaikan aceh dan ambon. Apalagi Aceh, yang dia mengakuinya kalau dia sampai mengeluarkan biaya sendiri, dan pada awalnya itu sesuatu yang tidak didukung oleh pemerintah, tapi ia terus maju. Hasilnya adalah gelar Dr. Honoris Causa dari Universitas di Jepang dan di Malaysia. Saya yakin kedua universitas itu tidak mungkin berani memberikan gelar Dr. kalau memang JK tidak banyak berperan dalam perdamaian di aceh. Hal itu sangat mencerminkan kecintaannya kepada bangasa dan negara.

Kebanggaan yang berikutnya adalah ketika melihat debat capres yang diadakan KPU, saya senang sekali melihat JK tampil dengan baik dan terlihat yang paling dominan, apalagi saat dia mulai menyerang capres yang lain dengan tegas dan lugas. JK tidak merasa sungkan mengkritik SBY yang masih atasannya, jika memang dirasa salah, dia bilang salah.  Dari debat itu sangat terlihat mana yang paling menguasai masalah di masyarakat  dan cepat untuk menemukan solusinya. Dan saya kira wajar kalau banyak yang menilai JK adalah pemenan dalam debat capres itu. Saya makin yakin kalau calon yang saya dukung adalah calon yang paling tepat.

Memang saya akui ada satu hal yang kurang dalam kepribadian JK, yaitu pencitraan dirinya sebagai seorang pemimpin yang berwibawa, JK pun mengakuinya di dalam salah satu iklan kampanyanye, dan sayangnya hal itu adalah hal yang penting bagi rakyat indonesia. Saya sangat menyayangkan kalau memang hal itu yang menjadi hal yang penting bagi masyarakat dalam memilih. Saya ingat saya berdebat dengan teman saya karena pada awalnya dia mendebat saya dengan bicara soal kepantasan, bahkan sampai bilang kalau pak JK mirip salah satu pelawak, saya tidak terima hal itu, langsung saja saya adu argumen dengannya. Tetapi setelah ditengah debat dia menjelaskan pemilihannya pada calon lain juga karena prestasinya selama memerintah, saya hormati pilihannya itu.

Artikel ini tidak saya maksudkan sebagai pembelaan karena JK tidak terpilih di pemilu presiden tahun 2009 ini. Tetapi artikel ini saya buat untuk membuktikan bahwa masih ada kebanggan walaupun kita tidak berhasil. Jangan kita melihat segala sesuatu yang tidak berhasil itu berarti kalah, di dalam itu masih banyak sisi positif yang bisa kita manfaatkan. Kita juga jangan melupakan sisi negatifnya, itu juga bisa menjadi salah satu hal yang bisa kita pakai untuk menginstropeksi diri kita sendiri. Pada akhirnya semua pngalaman inilah yang akan membuat ita semakin dewasa.

Buat pak JK, selamat datang di kampung halaman. Walaupun di kampng halaman, bapak harus melanjutkan terus perjuangan bapak untuk memajukan bangsa ini, kan masih banyak cara untuk mengabdi pada bangsa dan negara ini, iya kan pak . . . Dan maafkan saya yang terpaksa golput karena keadaan dan tidak bisa menyumbangkan suaranya buat pak JK . . .

Categories: Politik Tag:, ,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.